Ditengah Wabah Corona, Begini Nasib Pelatih Lokal Indonesia


Ilustrasi latihan klub SSB. (CNN Indonesia/Andito Gilang Pratama)
Ruangberita7.com - Amsori, pelatih Sekolah Sepak Bola (SSB) Benteng Muda Tangerang, terpaksa mengajukan relaksasi pembayaran kredit motor matic yang diambilnya sejak sekitar 13 bulan lalu.

Aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk menekan penyebaran covid-19, yang membuat latihan SSB terpaksa diliburkan, turut menguras isi dompet Amsori.

Menjadi seorang pelatih SSB, Amsori mendapatkan honor sebesar Rp100 ribu per kedatangan. Dalam sepekan Amsori bisa tiga kali melatih, namun pembayaran dirapel setiap bulan. Pemasukan itu, belum ditambah uang tips dari orang tua murid dan honor jika timnya mengikuti kompetisi.

Jika ditotal, pemasukan Amsori setiap bulan tak lebih dari Rp2,5 juta. Dari uang tersebut, ia harus menghidupi anak istrinya serta membayar cicilan yang masih menunggak.

Uang transport dari manajemen SSB Benteng Muda setiap akhir pekan sebesar Rp100 ribu yang biasanya ia sisihkan per bulan untuk membayar cicilan motor sebesar Rp1.046.000 tak lagi diterimanya.
SSB cukup banyak ditemui di daerah Jabodetabek. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)
Motor tersebut digunakan Amsori sehari-hari, termasuk saat bertugas melatih anak didiknya di Benteng Muda, SSB yang sembilan tahun terakhir jadi tempatnya mencari penghasilan.

"Terakhir saya bayar cicilan motor itu bulan Maret. Setelah itu saya ajukan relaksasi untuk enam bulan. Jadi saya dapat relaksasi dua bulan, Juni nanti tanggal 18 baru saya bayar lagi. Ini belum tahu bagaimana bayarnya," kata Amsori kepada CNNIndonesia.com.

Selain angsuran motor, Amsori juga masih punya tunggakan utang di bank sebesar Rp25 juta yang dicicilnya selama dua tahun. Bukan tanpa tujuan, ia memberanikan diri meminjam uang di bank untuk membangun kontrakan yang dapat menjadi masa depan buat hidup keluarganya.

"Alhamdulillah, bank juga memberikan penangguhan enam bulan. Jadi ya semoga corona ini cepat selesai, cepat normal supaya urusannya juga jadi gampang semua," harap Amsori.

Beruntung, Amsori masih memiliki bisnis warisan orang tua yakni berjualan sayuran yang telah dilakoni sejak 1998. Hasil dari berjualan itu yang masih bisa digunakan Amsori untuk memberi makan anak istrinya.

Gara-gara corona, Amsori juga batal mengikuti pelatihan untuk mengambil lisensi kepelatihan D Nasional yang rencanaya digelar di Palembang mulai 9 April lalu. Meski begitu, pelatih 41 tahun itu berusaha untuk ikhlas dan sabar menghadapi setiap ujian hidupnya.

Di tangan Amsori, pemain-pemain berbakat telah dipolesnya. Terbukti, beberapa pemain binaannya kini sudah tampil di kompetisi Elite Pro Academy U-16 buatan PSSI.

Sebut saja, M Raihan Putra Utina, anak sulung dari mantan penggawa Timnas Indonesia, Firman Utina yang pernah dilatihnya sejak kecil. Raihan saat ini sudah bergabung dengan Persija U-16.

Beberapa nama lain juga pernah mencicipi tangan dingin Amsori saat melatih. Misalnya, Fahrial Samudra pemain Barito Putra U-16 serta Aria Ragael Simran, yang memperkuat PS Tira di musim 2019.

Kini, Amsori dan enam pelatih lain di SSB Benteng Muda berharap wabah virus corona segera berlau. Tawa riang anak asuhnya saat berlatih di lapangan sudah membuatnya rindu, juga honor yang biasa digunakannya buat melunasi cicilan. (CNN Indonesia)

Posting Komentar untuk "Ditengah Wabah Corona, Begini Nasib Pelatih Lokal Indonesia"

Berlangganan via Email