Indonesia Belum Pulih, New Normal Diberlakukan, Akankah Mengakibatkan Gelombang Kedua COVID-19 di Indonesia?

liputan6.com

Ruangberita7.com - Indonesia sudah berani masuk era new normal walau kasus Virus Corona (COVID-19) masih menanjak tiap hari. Jumlah tesnya pun belum kunjung menyentuh 10 ribu.

Salah satu yang ditakuti dari new normal adalah jika terjadi gelombang II dari COVID-19. Lantas apakah Indonesia siap mengantisipasi kemungkinan itu?

Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Institute, Amin Soebandrio, berkata untuk menentukan hal itu harus tiap wilayah. Kesiapan pemerintah dan kedisiplinan masyarakat menjadi kunci sukses di new normal dalam melawan virus corona ini.

"Setiap negara saja tidak sama, tidak semua sama siapnya. Dalam satu negara pun, terutama negara besar seperti Indonesia di mana setiap daerah punya karakteristik masing-masing dan kita perhatikan kurva epidemi juga tidak seragam," ujar Profesor Amin kepada Liputan6.com, Kamis (28/5/2020).

"Ada yang sudah menunjukan ke arah perbaikan, ada yang masih meningkat terus dengan tajam dan itu semua tentu sangat dipengaruhi oleh situasi di daerah tersebut, termasuk perilaku masyarakat," ia melanjutkan.

Amin berkata daerah-daerah harus yakin dulu bahwa situasi terkendali sebelum ikut new normal. Jika sudah new normal, pemerintah disarankan konsisten menegur pelanggar aturan. Amin tak menyerankan pemberian sanksi keras, melainkan yang bersifat edukatif ke masyarakat.

Adapun pemerintah daerah harus sigap melakukan pelacakan jika ada pasien baru dan pasien positif corona harus langsung diisolasi, terutama jika ada klaster corona di tempat keramaian

"Sebab kalau itu tidak dilakukan dengan cepat ya potensi terjadinya second wave  akan lebih besar," ujar Amin.

Hal serupa pun berlaku di luar negeri. Keberhasilan new normal tergantung pada kepatuhan dan kesadaran masyarakat. 

"Sekali lagi tergantung bagaimana masyarakat berperilaku ketika new normal itu berlangsung, karena kalau namanya new normal berarti memang semuanya menyesuaikan diri dengan situasi COVID ini," tegas Amin.

Per 28 Mei ini, total kasus Virus Corona di Indonesia menjadi 24.538 orang: pasien sembuh 6.240 orang dan pasien yang tercatat meninggal 1.496 orang.

-Kriteria Daerah yang Bisa Terapkan New Normal Versi Jokowi

Juru Bicara Penanganan COVID-19 di Indonesia, Achmad Yurianto saat konferensi pers Corona di Graha BNPB, Jakarta, Senin (18/5/2020). (Dok Badan Nasional Penanggulangan Bencana/BNPB)

Penerapan era new normal hanya akan diterapkan di 4 provinsi dan 25 kabupaten/kota yang indeks penularan virus corona (R0) sudah di bawah satu. DKI Jakarta dan Tangerang masuk daftar new normal.

"Nanti juga akan kita mulai untuk  tatanan baru ini kita coba di beberapa provinsi kabupaten dan kota yang memiliki R0 di bawah satu," ujar Jokowi saat memimpin rapat terbatas melalui video conference, Rabu (27/5/2020).

Dia menjelaskan penerapan kebijakan new normal di suatu daerah bergantung pada R0 dan Rt yang sudah menurun.

Jika R0 kurang dari satu, maka rata-rata orang yang terinfeksi akan menularkan kurang dari 1 orang. Sebaliknya, apabila R0 diatas satu maka masih ada penyebaran virus corona.

"Persiapan pelaksanaan tatanan normal baru yang akan kita lihat dari angka-angka dan fakta-fakta di lapangan utamanya yang berkaitan dengan R0 dan Rt," jelas Jokowi.

Jika penerapan new normal di 4 provinsi dan 25 kabupaten/kota tersebut efektif, maka akan diperluas ke daerah-daerah lainnya.Liputan6.com

Posting Komentar untuk "Indonesia Belum Pulih, New Normal Diberlakukan, Akankah Mengakibatkan Gelombang Kedua COVID-19 di Indonesia?"

Berlangganan via Email