Muhammadiyah Ingin Bicarakan Kepada Ahli soal Pesantren: Khawatir Jadi Klaster Corona Baru

Suasana SD Muhammadiyah 5 Jakarta, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan,  saat hari pertama masuk sekolah (15/7). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Ruangberita7.com - Kementerian Agama menerbitkan prosedur bagi pondok pesantren agar dibuka lagi dan memulai kegiatan belajar dengan 'new normal'. Merespons itu, Muhammadiyah yang memiki sekitar 255 pesantren, tak ingin buru-buru membuka lagi pesantren.

"Muhammadiyah masih belum berani, karena kita akan membicarakan dulu dengan para ahli dulu. Ketika keluar edaran PP Muhammadiyah 18 Maret (ibadah di rumah), itu kita konsultasikan ke ahli terutama ahli mengenai pandemi, penyakit menular, kita kumpulkan di Yogya melalui media virtual," ucap Ketua PP Muhammadiyah, Dadang Kahmad, kepada kumparan, Kamis (28/5).

PP Muhammadiyah terus berkonsultasi dengan para ahli bidang kesehatan, termasuk epidemiologi, sebelum memutuskan membuka kembali pesanten termasuk masjidnya. 
"Kalau menurut mereka belum, termasuk tempat ibadah, kita belum berani untuk membuka, sebelum ada rekomendasi dari tim ahli yang memang tahu tentang kondisi, mengenai penyebaran," kata Dadang.

"Kalau memang bisa di daerah tertentu yang aman, yang hijau ya no problem, tapi daerah-daerah merah perlu hati-hati juga. Saya kira dua-duanya kalau memang memungkinkan, kalau kata ahli kesehatan memungkinkan ya kenapa tidak? Tapi kalau ahli kesehatan bilang berbahaya, ya jangan," lanjut dia.

Dadang meminta pemerintah berhati-hati merencanakan new normal, termasuk membuka kembali kegiatan belajar mengajar di pesantren. Ia khawatir jika tanpa analisis risiko, maka akan menimbulkan klaster corona baru. 

Petugas memeriksa suhu santri di Ponpes Syubbanul Wathon Tegalrejo, Jawa Tengah, Rabu (22/4) Foto:  ANTARA FOTO/Anis Efizudin

"Menurut saya harus hati-hati konsultasikan dengan para ahli pandemi dengan para ahli. Terutama dari Departemen (Kementerian) Kesehatan tentang hal ini apakah akan aman atau tidak," kata Dadang. 

"Kalau tidak kan nanti akan jadi klaster baru. Akan jadi pusat penyebaran baru di sekolah-sekolah, di pesantren-pesantren," jelas dia.

Dalam persiapan new normal, Kemenag sebelumnya sudah menyiapkan protokol bagi para santri untuk kembali ke pesantren. Ada sejumlah tahapan dan kewajiban yang harus dilakukan oleh para santri sebelum kembali ke pesantren, hal itu demi mencegah penyebaran virus corona.

Kemenag sudah berkoordinasi dengan seluruh pihak pesantren terkait menyambut kembalinya para santri. Termasuk menyusun metode pembelajaran (new normal) bagi santri yang masih di pondok, santri belajar di rumah, santri baru, dan santri yang kembali ke pesantren. Kumparan.com

Posting Komentar untuk "Muhammadiyah Ingin Bicarakan Kepada Ahli soal Pesantren: Khawatir Jadi Klaster Corona Baru"

Berlangganan via Email