New Normal VS Kekhawatiran Baru

Presiden Joko Widodo (instagram.com)

Ruangberita7.com - Sinyal untuk melakukan new nomal kian hari kian diperjelas oleh Pemerintah Republik Indonesia. Pada Selasa 26 Mei 2020 lalu, Presiden Jokowi mengadakan kunjungan ke stasiun MRT dan salah satu pusat perbelanjaan di Bekasi, Jawa Barat.

Kunjungan ini dianggap sebagai simbol bahwa negara Indonesia akan memulai kembali kehidupan baru yang saat ini disebut dengan istilah new normal.

Seperti yang kita ketahui, hampir beberapa bulan terakhir, penyebaran virus Covid-19 telah menjadikan kehidupan manusia di seluruh dunia berubah drastis.

Hal itu menyebabkan keterpurukan yang luar biasa baik bagi negara maupun individu yang menjalani kehidupan. 

Dengan adanya penyebaran virus covid-19 ini, manusia berupaya sebisa mungkin memunculkan naluri bertahan hidup dengan tujuan supaya tidak tertular penyakit (morbiditas).

Segala macam kebijakan pun dikeluarkan oleh pemerintahan di seluruh dunia untuk menanggulangi penularan virus serta mengobati yang telah tertular virus ini.

Porak porandanya perekonomian Indonesia dan dunia benar-benar telah kita rasakan saat ini. Bagaimana tidak, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I tahun 2020 ini tersungkur hanya 2,97% dari target pertumbuhan 4,5-4,6%.

Bak buah simalakama, kebijakan new normal yang akan diterapkan pemerintah tentunya menimbulkan pro kontra di masyarakat. Dengan penyebaran virus Covid-19 yang terbilang masih tinggi di Indonesia kebijakan ini menimbulkan kritik bagi sebagian kalangan.  Bagi sebagian kalangan lain ada pula yang mendukung tentunya karena memaksa orang-orang tetap tinggal di rumah juga berdampak berat pada ekonomi.

Tapi bagian sebagian warganet, istilah new normal ini seperti istilah physical distancing beberapa waktu lalu. Istilah keren namun tak disertai protokol yang jelas. Alhasil, banjir kritikpun bermunculan.

Pertanyaannya pantaskah Indonesia memberlakukan kebijakan New Normal seperti beberapa negara-negara lainnya di Dunia. Banyak masyarakat yang begitu khawatir dengan kebijakan ini dan menganggap ini sebagai bentuk ketidakberdayaan pemerintah menghadapi covid-19.

Bahkan salah satu masyarakat menganggap kebijakan yang akan diberlakukan pemerintah ini prematur.

"Baru kena aja Maret, telat. Penanganan dan kebijakan "PSBB" aja baru akhir Maret-awal April. Lambat. Screening test daerah2 aja lambat. Ini mau ikutan relaksasi kayak negara lain. Terlalu prematur menurut saya" ungkap Yoga.

Lain lagi komentar dari seorang warganet dengan akun Nurfitria Marhamah Pipit "Dari awal pemerintah cuman mengedepankan perekonomian ketimbang keselamatan masyarakat nya..  Dari pilihan lebih memilih  psbb dari pada lockdown..  Padahal kl kita memilih untuk lockdown jkt,  kemungkinan virus kesebar kedaerah lain kecil,  perekonomian mungkin akan mati tp mungkin itu hanya berlangsung paling lama 3 bulan seperti negara2 lain yg melakukan lockdown..  Tp pemerintah lbh memilih psbb agar perekonomian tetap brjln walaupun melambat malah hal itu membuat virus corona di Indonesia ga kunjung turun walaupun udh 3 bulan..  Dan pemerintah udh berputus asa dan mencari cara agar perekonomian kembali menggeliat dengan embel2 'New Normal'.. Menurut w Indonesia melakukan New Normal skrng itu hanya akan membuat kita menuju gelombang ke-2 Covid.. Dan kita harus kembali bekerja dari rumah dan yg udh di phk makin sulit mencari pekerjaan baru..  Kmrn Jakarta kasus covid nya naik lagi menjadi 130 an..  Yakin mau negatif 'New Normal'?  Dalam keadaan kaya gitu.."

Selain komentar negatif banyak juga masyarakat yang mendukung upaya Pemerintah ini, misalnya Tamy Oktrari. Menurutnya dalam akun twitter @tamy_oktari "Ini merupakan  upaya mitigasi dan kesiapan tempat kerja seoptimal mungkin, sehingga dapat beradaptasi melalui perubahan pola hidup pada situasi Covid-19 atau New Normal. Siap untuk new normal life sbg lngkah pulihkan aktivitas untk ekonomi . #NewNormal #IndonesiaTanggapCorona"

"New Normal akan berdampak positif pada ekonomi. Pemerintah tengah menyiapkan skenario pelaksanaan protokol kenormalan baru (new normal). Ekonom menilai new normal dapat berdampak positif pd perekonomian yg tertekan cukup dalam" cuit akun @__RismaWidiono_.

Menyikapi keputusan yang akan diberlakukan pemerintah Indonesia yang direncanakan terlaksana pada 8 Juni ini, hendaknya negara kita syarat-syarat penting yang harus diberlakukan jika ingin menyongsong New Normal Life.

Syarat tersebut harus dipenuhi mengingat status Pandemi Covid 19 di Indonesia hari ini kian mengkhawatirkan. Kasus pandemi covid-19 di Indonesia belum menemui tanda-tanda penurunan seperti yang terjadi pada negara-negara lain yang akan melakukan relaksasi. Belum lagi adanya risiko untuk menghadapi "second wave pandemi" begitu besar di Indonesia, seperti yang dilansir oleh WHO.

Istilah bertagar #NewNormal ini seolah-olah menguatkan maksud "berdamai dengan virus corona" yang telah dilontarkan Presiden Joko Widodo sepekan sebelumnya, masif digaungkan. Treatment-nya mirip kampanye 'Revolusi Industri 4.0': yang penting terdengar keren dulu aja, urusan mayoritas orang paham maknanya atau tidak belakangan.

Hari ini masyarakat resah dan khawatir, sebagian bertanya-tanya. Apakah Indonesia sudah memenuhi syarat untuk melakukan relaksasi atau kehidupan normal baru?. Sampai hari ini belum ada penjelasan yang dilontarkan oleh pemerintah.

Lucunya lagi, Sang Menteri Polhukam Mahfud MD tiba-tiba ngeluarin komentar seksis dalam siaran halal bihalal daring Ikatan Keluarga Alumni Universitas Sebelas Maret.

Entah ini serius atau hanya jok saja, penjelasan beliau soal Corona seolah-olah lawakan saja. Bagaimana tidak , coba simak baik-baik ungkapan beliau berikut:

"Saya kemarin mendapat meme dari Pak Luhut itu begini: ‘Corona is like your wife. In easily you try to control it, then you realize that you can’t. Then, you learn to live with it’," kata Mahfud dilansir Tempo.

Hari ini sangat wajar masyarakat khawatir akan konsep kehidupan baru yang dilontarkan pemerintah. Kebijakan tersebut diwacanakan tersebut dirasa tanpa alasan dan landasan yang kuat. Kebijakan ini seolah-olah mengabaikan angka penyebaran covid-19 yang semakin meluas dan tidak memperdulikan kurva positif corona telah sampai puncak atau belum.

Belum lagi gelombang kedua penyebaran virus corona, masih menjadi pertanyaan persiapan apa yang telah dilakukan pemerintah untuk menghadapinya. Masyarakat khawatir jika istilah yang keren "new normal life" yang digaungkan pemerintah, hanya untuk mengakomodasi kepentingan pengusaha yang hari ini mulai sengsara.

Politisi PKS Mardani Ali Sera melalui cuitannya di twitter menyatakan " Bismillah, istilah ‘New Normal’ yg disampaikan pak @jokowi Jumat pekan lalu bisa menjadi bencana besar jika dikendalikan tdk tepat. Salah bila kita gembar gembor New Normal disaat penyebaran yang masih tinggi & vaksin yg blm ditemukan. Bunuh diri massal namanya. #BencanaBesar".

Hari ini semakin wajar jika kekhawatiran masyarakat semakin bertambah. Harusnya New Normal hanya bisa dilakukan bila kita berhasil menurunkan penyebaran virus. Ini praktik yang standar diberlakukan di seluruh dunia.

Sedangkan di Indonesia apakah sudah ada kriteria yang ketat untuk pemberlakuan kebijakan tersebut, jika kita lebih mementingkan aspek ekonomi daripada kesehatan. Dampak yang lebih buruk mungkin saja bisa terjadi. Pertanyaannya kenapa harus Juni? (ahm/ruangberita7)

Posting Komentar untuk "New Normal VS Kekhawatiran Baru"

Berlangganan via Email