Tak Contoh PSBB DKI, Warganet Kritik Kinerja Risma?

Tangkapan layar beberapa media online

Ruangberita7.com - Jumlah pasien Corona di Jawa Timur umumnya dan khususnya di Kota Surabaya cenderung mengalami kenaikan. Salah satu netizen menceritakan awal mula mengapa Surabaya jumlah penderita Coronanya meledak melalui akun facebook yang bernama Kikik Dwinant Rizky ia menuliskan seperti ini:

KENAPA SURABAYA MELEDAK?

Kuceritakan padamu kisahnya.

Awalnya surabaya sangat ketat. Ada video lama jalanan kota surabaya lengang ketika mulai social distancing. Itu sebelum PSBB. Ada video pembubaran warkop oleh satpol PP.

Namun kesabaran orang surabaya habis ketika virusnya datangnya lambat. "Cuk! endi viruse cuk!".
Lama-lama jiwa bonek yang sok berani sok jagoan muncul,
"Ayo, kami gak takut virus".

Dan itulah yang terjadi di masyarakat. Lalu bagaimana dengan pemimpinnya?

Patron risma adalah pemerintah pusat. Pusat mikir ekonomi, risma juga. Bedanya pusat mikir ekonomi siapa dulu. Pikiran risma murni berpikir ekonomi tradisional. Karena itu wajah risma cemberut ketika surabaya ditetapkan PSBB. Ketika itu keputusan lebih dominan dipengaruhi kofifah. Ada nuansa dendam lama di pilkada. Ini kisah panjang. Nanti kuceritakan di kesempatan lain.

Tapi bukan itu faktor utamanya.
Karakter orang jatim lebih mendengar pemuka agama. Aku takkan sebut nama, ada pemuka agama yang sangat kondang videonya tersebar menganggap covid19 adalah kelebay-an. Dan bukan hanya satu pemuka agama. Videonya tersebar di grup-grup WA. Ditambah kampanye masjid ditutup blablabla.

Maka lepaslah semua.

Apakah itu menakutkan bagi warga surabaya? Tidak.
Setiap hari kakakku yang perawat dibully saudara sepupu dan pamanku, dianggap paranoid dan disumpahi mati lebih dulu.
Setiap hari harus bertengkar dengan emakku karena mencegah beliau nongkrong dengan tetangga. Dan kakakku disemprot, "kamu pikir semua orang punya penyakit?"

Selesai? Belum. Tapi jariku capek.

Dalam akun facebook miliknya Kikik Dwinant Rizky juga membahas tentang Herd Immunity dan Seleksi Alam

Herd immunity adalah produknya. Caranya bisa terjadi alamiah seperti virus spanyol seratus tahun lalu atau lewat vaksin. Vaksin didapat lewat pelemahan virus. Manusia berhadapan dengan virus segar bugar cara lainnya.

Pemerintah takkan mungkin mengaku tujuannya herd immunity. Bisa digugat kejahatan kemanusiaan. Tapi melihat gelagat menyerah sebenarnya tak terbantahkan lagi. Protokol yang dipertahankan hanyalah upaya melandaikan grafik. Memberi kesempatan paramedis bernapas. Kita harus realistis.

Persebaran virus melampaui kecepatan membuat vaksin. Jamu, jahe, eucalyptus, remdesivir, minum detergen, donor plasma jadi seperti kentut. Berbau tapi tak berwujud. Virus berbahaya atau tidak urusan lain. Biarlah diperdebatkan ahlinya. Cepat atau lambat kita akan tercovid juga.

Bisa dipahami jika orang awam membicarakan seleksi alam. Namun aneh jika seorang dokter berkomentar sebegitu ringan. Menghadapkan manusia melawan virus sehat melanggar etika pekerjaan.

Boleh dipikirkan tak patut diocehkan.

Contoh di atas merupakan bagian dari kritikan kinerja Pemkot Surabaya dalam menangani wabah Corona. Berbagai komentar pun dilontarkan warganet terkait hal tersebut, ada yang bernada gurauan dan ada yang komentar serius.

Firman R Djoemadi menuliskan komen "Paduan kepemimpinan provinsi dan pemkot menghasilkan kinerja di Surabaya yang mungkin termasuk paling jelek se Indonesia (?) .. Malang Raya bisa baik."

Liliana Gardenia "demi belain risma, pendapat pribadi dikesampingkan. hahahaha"

Selain komentar di atas, beberapa warganet juga mengkritisi soal PSBB yang tak mencontoh DKI. Bagaimana pendapatmu?
(Sumber: Kikik Dwinant Rizky/facebook)



Posting Komentar untuk "Tak Contoh PSBB DKI, Warganet Kritik Kinerja Risma?"

Berlangganan via Email