Waspada !! Corona Jilid 2 Imbas Arus Balik

sumber: NovaWahyudi
Ruangberita7- Risiko penyebaran virus corona (Covid-19) gelombang kedua imbas dari arus balik ke Jakarta merupakan ancaman yang harus diwaspadai.

Gelombang kedua penyebaran Covid-19 di Jakarta diprediksi akan terjadi seiring arus balik Lebaran warga ke wilayah Jabodetabek.

Ahli epidemiologi Universitas Indonesia Pandu Riono mengatakan, gelombang kedua ini tak akan bisa dihindari jika pemerintah tak segera mengintervensi warga yang balik dari kampung halaman.

"Sekarang gelombang pertama pun belum selesai. Intinya kalau ada pergerakan masyarakat seperti mudik dan arus balik itu selalu potensi untuk peningkatan kasus," ujar Pandu saat dihubungi, Kamis (28/5).

Pandu melanjutkan, gelombang kedua terjadi ketika kasus meningkat, kemudian sempat turun, dan naik lagi di fase awal penyebaran corona. Sementara saat ini belum terjadi grafik penurunan kasus. Namun gelombang dua, kata dia, juga bisa terjadi ketika gelombang pertama belum turun dan justru menciptakan puncak kasus baru.

"Kalau masih tinggi terjadi peningkatan akan membentuk dua puncak, tiga puncak, belum sampai benar-benar turun itu akan membentuk puncak baru atau gelombang dua itu," katanya.

Kondisi ini diyakini Pandu akan semakin parah dengan rencana penerapan tatanan hidup baru atau New Normal dari pemerintah saat aktivitas sosial ekonomi kembali dibuka.

Untuk itu, ia mendorong agar pemerintah provinsi Jakarta berinisiatif menyiapkan layanan tes bagi warga yang kembali ke ibu kota. Sejumlah syarat tes uji covid-19 bagi warga yang akan kembali ke Jakarta menggunakan rapid test maupun Polymerase Chain Reaction (PCR) dinilai Pandu tak akan efektif.

Pemerintah diketahui mewajibkan warga yang bepergian dengan pesawat, kereta api, perjalanan darat, maupun laut menunjukkan surat bebas Covid-19 dari hasil rapid test maupun PCR. Namun menurut Pandu, surat bebas Covid-19 itu justru bisa menjadi celah untuk mengelabui petugas.

"Itu kan bisa saja dipalsukan. Jadi lebih baik pemerintah DKI siapkan tempat tes supaya lebih dini kita temukan yang butuh perawatan," ucap Pandu.

Simulasi Perhitungan Arus Mudik

Sementara itu, Ketua Umum Indonesian Environmental Scientsts Association (IESA) Tri Edhi Budhi Soesilo mengungkapkan prediksi gelombang kedua corona pada awal Agustus mendatang.

Prediksi ini dilakukan berdasarkan simulasi perhitungan arus mudik sejak April sampai akhir Juni 2020 dan arus balik dari akhir Juni sampai akhir September 2020 dengan tingkat penularan atau R0 = 2.

R0 merujuk pada angka reproduksi atau tingkat penularan virus. Jika angka R di atas satu, jumlah kasus kumulatif meningkat. Sementara jika di bawah 1, maka kasus akan berkurang atau hampir tidak ada.

"Gelombang kedua dengan R0=2 meningkat cepat di awal Agustus 2020 dan mencapai puncak pada akhir September 2020," kata Budhi dikutip dari paparan soal 'Model Pandemi Covid-19 di DKI Jakarta saat Mudik, Lebaran, dan Arus Balik'.

Sementara jika menggunakan perhitungan R0 = 5,maka gelombang kedua kasus positif covid-19 di Jakarta akan lebih cepat mencapai puncak di awal September 2020. Hal ini disebabkan angka kontak meningkat 2,5 kali jika dibandingkan R0=2 sehingga orang yang terinfeksi lebih banyak.

"Hasil simulasi memperlihatkan peningkatan kasus positif dengan cepat terjadi awal Agustus 2020," jelasnya.

Sedangkan jika menggunakan perhitungan R0 = 8, gelombang kedua akan mencapai puncak pada Agustus 2020 dengan jumlah kasus mencapai kurang lebih 70 ribu.

Menurut Budhi, jumlah kasus positif pada gelombang kedua memang sangat bergantung pada berapa R0 yang terjadi di masyarakat akibat pergerakan masyarakat yang kembali ke Jakarta.

"Semakin besar angka kontak (R0) akan semakin cepat jumlah kasus positif Covid-19 bertambah dan semakin cepat mencapai puncak," kata Budhi.

Sementara arus balik diketahui sangat berisiko menyebarkan penularan. Kondisi ini diperparah dengan kebijakan pemerintah yang tak konsisten saat mengeluarkan larangan mudik. Tak lama setelah melarang mudik, pemerintah justru memberi kelonggaran pada sejumlah orang yang tetap diizinkan untuk bepergian.

"Dispensasi dari pemerintah untuk bepergian itu dimanfaatkan masyarakat dengan 'akal-akalan," ujarnya.

Padahal, lanjutnya, orang yang sudah tertular tidak akan langsung menunjukkan gejala krena ada masa inkubasi 14-20 hari.

"Artinya orang yang tertular tanggal 1 misalnya, akan sakit pada 14-20 hari kemudian, apalagi kalau tidak segera periksa, akan menambah waktu seseorang dinyatakan positif," tutur Budhi.

Kasus positif covid-19 di Indonesia per 28 Mei 2020 mencapai 24.538. Jakarta diketahui masih tertinggi secara nasional. Jumlah kasusnya mencapai 7.001 kasus. Dari jumlah tersebut, 1.702 sembuh dan 509 orang meninggal dunia.cnn

Posting Komentar untuk "Waspada !! Corona Jilid 2 Imbas Arus Balik"

Berlangganan via Email