Ironi, Seorang Ibu yang Curi Kelapa Sawit Rp 76.500 Demi Anaknya yang Kelaparan Divonis Bersalah

Ilustrasi perkebunan kelapa sawit Foto: ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

Ruangberita7.com - Kisah seorang ibu yang diproses hukum akibat mencuri kelapa sawit senilai Rp 76.500 dari PT Perkebunan Nusantara (PTPN) V santer diperbincangkan. 

Ibu tersebut terpaksa mencuri karena anaknya kelaparan. Namun, pihak perusahaan menganggap proses hukum tetap harus berjalan dan mengklaim bantuan sebelumnya sudah pernah diberikan pada warga sekitar perkebunan.

kumparan merangkum fakta-fakta soal kasus ibu yang mencuri kelapa sawit Rp 76.500, sebagai berikut: 

1. Cerita Pencurian Kelapa Sawit Senilai Rp 76.500

Kasus yang menjerat seorang ibu bernama Rica yang mencuri kelapa sawit senilai Rp 76.500 terjadi 31 Mei 2020 lalu. Dikutip dari Selasar Riau yang merupakan media partner kumparan, kasus itu berawal saat Rica bersama kedua temannya kepergok sekuriti saat mencuri buah sawit di areal PTPN V Kebun Sei Rokan, Kabupaten Rokan Hulu, Riau. 

Namun, dua rekan Rica berhasil kabur, sementara Rica ditangkap dan langsung digelandang ke Mapolsek Tandun. Sekuriti PTPN V pun kemudian melaporkan Rica dengan tuduhan pencurian tiga tandan buah sawit dengan kerugian Rp 76.500.

Kisah Rica sebelumnya menjadi sorotan setelah dia mengaku nekat mencuri tandan buah sawit karena ketiga anaknya yang masih di bawah lima tahun merengek kelaparan. Sementara, dia tidak lagi memiliki beras.

Pada saat kejadian, Junaidi, suami Rica, buruh kebun disebut tidak lagi berada di rumah. Rica kalut dan nekat mencuri sawit untuk mencuri beras.   

Pekerja menurunkan tandan buah segar kelapa sawit untuk diolah menjadi Crude Palm Oil (CPO). Foto: ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi

Polisi sejatinya telah berusaha untuk memediasi kasus itu agar berujung damai. Namun, sekuriti perusahaan disebut tetap bersikukuh untuk melanjutkan kasus itu hingga bergulir ke pengadilan.
   
2. Proses Hukum yang Ditetapkan untuk Rica

Asisten Intelijen Kejaksaan Tinggi (Asintel Kejati) Riau, Budi Raharjo Kisnanto dalam keterangannya di Pekanbaru, Rabu (3/6/2020) mengatakan, ibu rumah tangga bernama Rica Marya divonis bersalah melanggar Pasal 354 KUHP setelah menjalani satu kali proses persidangan cepat di PN Pasir Pangaraian, kemarin.

"Dalam hal ini sudah disidangkan dengan putusan Nomor 43/pid.c/2020/pn atas nama Rica MaryaBoru Simatupang dijatuhi pidana penjara tujuh hari karena terbukti melakukan pencurian pidana ringan," katanya.

Akan tetapi, Raharjo mengatakan, ibu tiga anak itu tidak perlu menjalani masa tahanan. Namun, jika selama masa percobaan selama dua bulan Rica melakukan atau terlibat tindak pidana, maka vonis majelis hakim bisa diterapkan.   

Perkebunan Kelapa Sawit Foto: Pixabay

Dalam perkara ini, Kejaksaan Negeri Rokan Hulu berperan sebagai eksekutor. Sehingga, Korps Adhyaksa lah yang akan memantau masa percobaan selama dua bulan terhadap Rica.

Jika selama dua bulan Rica terlibat pidana kembali, maka ia bisa langsung dieksekusi untuk ditahan selama tujuh hari.

3. Penjelasan PTPN V atas Kejadian Rica

Manajemen PT Perkebunan Nusantara (PTPN) V angkat bicara soal kasus seorang ibu yang harus menjalani proses hukum karena pencurian kelapa sawit senilai Rp 76.500.

Pengadilan Negeri (PN) Pasir Pangaraian Kabupaten Rokan Hulu telah memutuskan menjatuhkan pidana kurungan selama 7 (tujuh) hari dengan masa percobaan selama 2 (dua) bulan tanpa harus menjalani hukuman kurungan tersebut.

Menyoal itu, Kepala Bagian Sekretariat Perusahaan PTPN V, Bambang Budi Santoso mengatakan hal itu sebagai upaya taat hukum untuk menerima dan menghormati penuh semua proses hukum.

“PTPN V tidak memiliki kewenangan untuk mengintervensi proses hukum serta berharap kejadian pencurian seperti ini tidak terjadi kembali,” ujar Bambang secara tertulis kepada kumparan, Jumat (5/6). 

Bambang pun menjelaskan, kejadian ini merupakan gangguan keamanan yang kerap terjadi di areal perkebunan perusahaan kelapa sawit. PTPN V sebagai pengelola aset negara, menurutnya berkewajiban untuk melindungi segala bentuk gangguan dan pencurian terhadap aset negara serta mendukung proses pencurian terhadap aset negara serta mendukung proses penegakan hukum. 

Untuk itu, Manajemen PTPN V khususnya Kebun Sei Rokan selalu mengedukasi masyarakat sekitar untuk bersama-sama menjaga kebun sebagai aset negara.

Pihaknya mengklaim juga telah melakukan upaya menjaga harmonisasi dan memberdayakan masyarakat sekitar kebun sawit atau unit di wilayah Provinsi Riau, termasuk Kebun Sei Rokan di Kabupaten Rokan Hulu.

Berbagai hal yang dilakukan PTPN V seperti, mempekerjakan masyarakat sebagai tenaga pemeliharaan, pemberian bantuan sembako, pembangunan sarana ibadah dan fasilitas pendidikan hingga kerja sama menanam budidaya jahe merah untuk meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.
Sumber : Kumparan

Posting Komentar untuk "Ironi, Seorang Ibu yang Curi Kelapa Sawit Rp 76.500 Demi Anaknya yang Kelaparan Divonis Bersalah"

Berlangganan via Email