Jonru Ginting: Rakyat Diperas dan Dizalimi, Tragis Bener Hidup di Negeri Taeklan

Sumber: goriau

Ruangberita7.com – Pegiat media sosial Jonru Ginting menyebut rakyat diperas dengan berbagai pungutan. Namun pada sisi lain, rakyat terus dikriminalisasi dan dizalimi.

“Di satu sisi rakyat mulai diperas. Rakyat disuruh nyumbang utk negara. Di sisi lain rakyat terus dikriminalisasi, didzalimi. Ente ini pengayom rakyat atau penjajah?,” kata Jonru melalui akun Twitter-nya, Senin (8/6/2020).

“Tragis bener hidup di negeri taeklan. Untung negeriku tercinta Indonesia tidak seperti itu,” tambah Jonru.

Menurut Jonru, semakin banyaknya jenis pungutan menandakan bahwa negara sedang terancam bangrkut.

“Salah satu ciri negara yang mau bangkrut adalah: Mulai dan semakin banyak jenis2 pungutan kepada rakyat yang diterapkan,” kata Jonru.

Pajak Perusahaan Digital

Belum lama ini, pemerintah menegaskan akan mulai menarik pajak pertambahan nilai (PPN) 10% dari perusahaan digital.

Semua perusahaan digital dari luar negeri yang beroperasi di Indonesia seperti Facebook, Netflix, Spotify hingga Zoom harus membayar pajak mulai Agustus 2020.

Penarikan ini dilakukan sejalan dengan Peraturan Menteri Keuangan nomor 48 tahun 2020 yang mulai berlaku pada 1 Juli 2020.

Setelah PMK berlaku maka nanti akan dilakukan penunjukan perusahaan pemungut kepada pelanggan mulai Agustus.

Dalam PMK 48/2020 tersebut juga dituliskan mengenai tata cara penunjukan pemungut, pemungutan, penyetoran serta pelaporan pajak digital kepada negara.

Adapun contoh produk digital yang akan dikenakan PPN 10% adalah termasuk mengunduh atau streaming melalui aplikasi untuk jenis buku, perangkat lunak komputer, game, majalah, film, musik, dan surat kabar.

Tidak hanya itu, layanan online seperti iklan, desain, pemasaran dan layanan konferensi video seperti zoom juga akan ditarik pajaknya.

Tagihan Listrik Melonjak

Selain PPN perusahaan digital, tagihan listrik yang melonjak drastis juga menjadi sorotan publik.

Sebagian pelanggan PLN mengaku mengalami pembengkakan tagihan hingga tiga kali lipat.

Melonjaknya tagihan listrik tidak hanya dialami pelanggan biasa. Tapi juga dialami oleh Direktur Human Capital Manajemen PLN, Syofvie Felianti Roekman.

Ia mengaku tagihan listriknya bahkan melonjak 100 persen. Dia menyebutkan, lonjakan tersebut akibat peningkatan konsumsi yang memang terjadi seiring kebijakan beraktivitas dari rumah dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

“Tagihan saya juga naik, tidak cuma 60 persen tapi 100 persen. Tapi karena AC menyala, semua beraktivitas di rumah,” tutur Syofvie dalam Konferensi Pers Virtual, Sabtu (6/6/2020).

Posting Komentar untuk "Jonru Ginting: Rakyat Diperas dan Dizalimi, Tragis Bener Hidup di Negeri Taeklan"

Berlangganan via Email