Puisi

Puisi karya Syamsul Bahri
Ruangberita7.com

Dandelion I
karya Syamsul Bahri

Ilustrasi Ruangberita7.com / NY-SK

Jika ibu kita tak lagi tidur malam ini, 
Akankah cemas menggrogoti jemala 
                                  was-was anak-anaknya

seorang musafir dzikir seperti air
mengalir dan hanyut ke tepi estuari
kau, mudah patah dan rapuh
diterpa angin dingin
serpihan bungamu akan tumbuh 
melahirkan rahim-rahim ibu
kita melupakan yang semestinya kita lupa:
                                        telaga malahayu

membuka telinga, menutup mata
sejenak rindu terjepit diantara kau dan aku
menyalang tanpa jeda 
menyulam segala aksara

(2020)


Dandelion II
karya Syamsul Bahri

Ilustrasi Ruangberita7.com / NY_SK

Siapa kirannya yang pantas disebut sebagai batu berlumut?
Saat jalanan terjal lalu terpelanting jauh kedalam ngarai
Kubenamkan jemalaku didasar dadamu

Hujan berlalu-lalang didepan lamunanku
Memesan ilalang ditengah-tengah perjalanan
Bukan hanya memiuhkan pedih di relung hati
Apa batu berlumut itu merasa bungah?

Petang belum seranum rona bibirmu. Dibawah atap
Kita menciptakan air mata. Kau bertanya,
Apa ibu kita akan segera pergi?

Sepasang burung berpelukan dibawah pendar purnama
Katamu, ibu kita menanak rindu anak-anaknya.

(2020)


Dandelion III
karya Syamsul Bahri

Ilustrasi Ruangberita7.com / NY_SK

Kita tanggalkan bunga-bunga mimpi di telaga tandus
Bersumber air mata dari pulupuk mata ibu
Bukankah impian kita adalah mati 
Dalam dekap orang yang dicinta

Ibu kita sedang menanak rindu, katamu.
Sepasang burung membawa pergi jemawa

tembok labirin tak pernah menyeka keringatnya
seekor capung hinggap di ranting-ranting pohon akasia
rindu kita telah ranum. Tapi tak bisaku merasakannya.
Ayahku, bisakah kau rasakan ketiadaannya?

Cahaya menjelma cinta yang tak pernah selesai
                                 Telah datang dan merasuk kedalam sukmaku

Meninggalkan rumah kecil dalam jemalamu

(2020)



Dalam perjalanan
karya Syamsul Bahri

Dalam perjalanan pergi
Masing-masing dari kita memahat cahaya
Pada sebuah batu nisan
Dalam perjalanan pulang
Entah itu masa lalu atau masa depan
Masing-masing dari kita mengusap gelap
Dengan kain berlumur dosa

Jalan-jalan pelan-pelan mencintaimu
Ia selalu menitipkan samsara
Pada setiap arah langkahmu

(2020)



Tangisan puan
karya Syamsul Bahri

Pusara itu tertimbun rerumpunan tebal
diselimuti luruhan daun yang kekal
Gemersik angin di bawah pejalan kaki
Bertabur bunga-bunga kamboja

Kudekap erat sebongkah nisan penuh lumut
Seakan mengucapkan selamat datang untuk selamat tinggal
Betapa moleknya pusaramu
Pohon kamboja membungkuk memayunginya
Berguguran bunga-bunga masa lalu
Mengalir air dalam telaga mimpi
Menetes embun-embun jatuh dari sepasang mata rapuh !
Untuk anakku teguk
Meminum air matanya sendiri



Puan
karya Syamsul Bahri

Rebahlah
Akulah lentera
Untuk jalan gelapmu
Meski nyalang terlepas

Tapi rebahlah
Rebahlah pada sore ini
Sebelum maghrib berkemas pergi
Membelai rimbun daun
Yang dilahap api peristiwa

Selamat malam, katamu.
Katamu
Ingin menjdi rembulan

Rebahlah,
Mungkinkah kita akan sampai
Jika tembok ini
Tak lagi berdoa?

Malam aka segera lenyap
Kan segera senyap
Dicumbu jeruji berkarat,
Dan tembok merebas segala air mata
Diujung pena, kau mengisinya
Dengan tinta puisi
Walau kadang kesedihan
Merajam segala petaka

(2020)

Baca juga : KPU Tetapkan Larangan Kampanye Akbar Pilkada 2020 di Lapangan, Hanya Boleh Online

Tentang penulis
Syamsul bahri, lahir di Subang 12 Juli 1995. Sajak-sajaknya pernah tersiar di berbegai platform media daring dan luring. Salah satu puisinya termuat dalam antologi bersama, antara lain: Carpe diem (Penerbit Halaman Indonesia, 2020) Surel :syamsulb725@gmail.com. IG: @dandelion_1922. Wa: 082138096686

Posting Komentar untuk "Puisi"

Berlangganan via Email