Parpol Ada Regenerasi, Prabowo Tak Perlu Maju di 2024

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto memberikan sambutan pada acara HUT ke-12 Partai Gerindra di Kantor DPP Partai Gerindra, Jakarta, Kamis (6/2). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Ruangberita7.com - Partai Gerindra sudah mulai membuka wacana soal pencalonan sang ketum Prabowo Subianto di Pilpres 2024. Hal ini secara implisit disampaikan oleh Sekjen Gerindra Ahmad Muzani saat bicara soal hasil rapimnas partai pekan lalu.  

Jika Prabowo benar-benar kembali nyapres di Pilpres 2024, maka ini akan menjadi kali ketiga Prabowo menjadi capres. Lantas bagaimana nasib regenerasi calon pemimpin Indonesia ke depan? 

Pengamat politik Adi Prayitno menyebut idealnya memang harus ada regenerasi kepemimpinan politik di Indonesia. Namun, regenerasi harusnya dimulai dari parpol, yaitu internal Gerindra dan partai-partai lain tentunya. 

Regenerasi kepemimpinan partai bisa dimulai dengan pembatasan masa jabatan ketum parpol. 

"Ya idealnya parpol harus melakukan modernisasi. Ada regenerasi yang harus mulai dibicarakan, misalnya batas ketum dibatasi. Maksimal 2 periode, 10 tahun, begitu pun dengan posisi sekjen," kata Adi kepada kumparan, Kamis (11/6). 

"Jadi biar tidak terjdi monopoli kepengurusan orangnya yang itu-itu saja. Itu idealnya," imbuhnya. 

Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Sandiaga Uno memberikan ambutan pada Rakerda Partai Gerindra di Grand Sahid Jaya Hotel, Jakarta, Minggu (26/1).  Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan 

Tapi di sisi lain, lanjut Adi, perlu juga disadari bahwa perilaku politik di Indonesia masih cukup tradisional. Artinya, kekuatan politik masih bergantung ke figur tertentu yang mendapat dukungan penuh dari partainya bernaung.  

Hal ini secara tidak langsung menghambat proses modernisasi dan regenerasi partai karena tokoh yang dianggap masih muda belum tentu bisa lebih populer dengan tokoh senior yang sudah disegani.  

"Mental modal perilaku politik kita masih tradisional sebenarnya di mana menggantungkan masa depan politik pada figur figur tertentu," kata Adi. 

"Misalnya kalau bukan Prabowo, kan tidak ada pelapis kedua yang relatif seimbang. Ini pertaruhan juga bagi parpol. Begitu pun partai yang lain," lanjut dia.

Adi menilai, sebenarnya jika ingin mengedepankan regenerasi baik capres maupun kepemimpinan partai, Gerindra punya beberapa nama yang bisa disiapkan untuk menjadi pengganti Prabowo.  

Direktur Eksekutif Parameter Politik, Adi Prayitno saat diskusi dengan tema "Wajah Islam Politik Pasca Pilpres 2019" di Kantor Parameter Politik, Jakarta. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

Sebut saja, Wakil Ketua Dewan Pembina Sandiaga Uno, Waketum Fadli Zon hingga Sekjen Ahmad Muzani.

"Misalnya yang paling mungkin menggantikan dirinya di pencapresan, kan ada nama Sandiaga Uno saya kira cukup populer," tuturnya. 

"Ada Ahmad Muzani, Fadli Zon, Sufmi Dasco, saya kira nama-nama top sebenarnya andai Prabowo tidak berkenan maju di 2024," lanjutnya.

Tapi, Adi memprediksi keputusan akhir tetap berada di Prabowo karena Prabowo merupakan tokoh sentral di Gerindra. Jika memilih tetap maju, maka sudah pasti tidak ada proses regenerasi.  

"Semua tergantung Pak Prabowo. Apakah dia mau atau tidak, itu hanya Prabowo yang menentukan sendiri. Kalau dia bilang tak maju, ya tentu saja ada regenerasi di situ. Memunculkan kader- kader baru," ujarnya.

"Tapi jika bertekad maju, saya kiratetap lah Prabowo karena bagaimana pun dia sang ketum. Semua tergantung dia," pungkasnya.
Sumber : Kumparan

Posting Komentar untuk "Parpol Ada Regenerasi, Prabowo Tak Perlu Maju di 2024"

Berlangganan via Email