Perjalanan Seru Mendaki Kaldera Tertinggi di Asia Tenggara, Danau Gunung Tujuh

Danau Gunung Tujuh - Ada banyak cara untuk menikmati hidup, salah satunya adalah dengan melakukan perjalanan seru menikmati keindahan alam yang tuhan ciptakan. Selain untuk menghibur diri, perjalanan menikmati alam juga dapat menambah rasa syukur kita akan karunia yang telah Tuhan ciptakan.

Perjalanan akhir tahun 2019 lalu, Bang Mamad memilih untuk melakukan pendakian ke sebuah daerah yang terkenal dengan julukan sekepal tanah dari surga yaitu Kabupaten Kerinci. Tujuan utamanya adalah Danau Gunung Tujuh. Sebuah kaldera tertinggi di Asia Tenggara, mahakarya Tuhan yang dapat menjadi pilihan wisata bagi para petualang semua.


Pendakian gunung atau berpetualang di hutan adalah salah satu hal yang amat membahagiakan bagi Bang Mamad. Semoga juga bagi Anda. Sebab di gunung dan hutan, uang dan kekayaan tidaklah berarti seperti di kota. Canda dan tawa juga tak sepalsu di kota dan persahabatan pun tak ada yang berpura-pura seperti di kota. 

Narasi di atas karena penulis merupakan salah satu korban kepalsuan dan kepura-puraan. Eh tidak-tidak, hanya bercanda biar gak terlalu serius.

Perjalanan di mulai pukul 06.00 pagi dari kota Jambi menuju kota Sungai Penuh yang memakan waktu sekitar 9 jam perjalanan jika tanpa berhenti. Memacu kendaraan roda dua kami melakukan touring ala anak-anak gaul zaman now. 

Jalanan relatif lurus dan mulus merupakan gambaran kondisi jalan yang harus Anda lewati menuju Kerinci. Oh ya untuk jaraknya, Dari Kota Jambi menuju Kota Sungai Penuh berjarak sekitar 422 kilometer.


Perjalanan yang kami lalui relatif sangat nyaman di mana kendaraan sepi dan cuaca mendung sepanjang perjalanan. Tapi yang paling berkesan adalah pengalaman minum air hasil cipratan mobil yang memotong kendaraan kami. Sebagai seorang yang kalem, aku hanya bisa istighfar dalam hati.

Oh ya, perjalanan menuju Kerinci Bang Mamad lakukan bersama sembilan orang. Sayangnya, kita satu tujuan tapi beda garis start. Yah, mereka menunggu di kampung halaman mereka yang jaraknya relatif dekat dengan Kabupaten Kerinci.

Sebenarnya mungkin kami sanggup saja untuk menembus perjalanan sembilan jam tanpa berhenti. Tapi gak yakin, karena pasti lapar dan kehabisan bahan bakar. Ya tetap saja kami banyak berhenti. Karena dengan berhenti itu kita bisa rehat sejenak, mengumpulkan kembali energi agar tetap kuat berjalan bersama. Gombal lagi.

Bagi Anda yang ingin melakukan perjalanan sejauh dan selama itu, memang sebaiknya singgah. Karena kalau kelelahan di jalan atau ngantuk tentunya akan berakibat fatal bagi kita. 

Sampai di Kota Bangko yang merupakan ibu kota Kabupaten Merangin. Kami telah memakan waktu perjalanan selama 6 jam. Jangan berharap jalanan lurus, ketika sudah melewati kota ini.

Jalanan berliku dan turun naik akan Anda lewati yang sebenarnya sangat memicu adrenalin. Ditambah lagi dengan jurang-jurang yang siap menantikan kedatangan kita. Harapannya kita tetap fokus dan jangan terkecoh dengan pemandangan yang begitu indah.

Kadang-kadang keindahan di jalan itu hanya fatamorgana yang memberikan keindahan tanpa kepastian. Dan akhirnya kita lupa tujuan.

Oh ya selama perjalanan kurang lebih 3 kali kami berhenti. Pertama di rumah Maliki untuk menambah asupan energi di Sarolangun, kemudian kami berhenti di Pom Bensin Bangko untuk isi bahan bakar dan Shalat. Terakhir kami berhenti di sebuah masjid di Desa Tamiai karena hujan yang mengguyur.

Kondisi motor sedikit tak bersahabat, karena belum di service ketika tanjakan ia melaju dengan seadanya walau sudah di gas full. Walau begitu kami tetap menikmati perjalanan nan melelahkan ini.

Pada akhirnya kami pun sampai di tempat menginap pukul 17.30 di Kota Sungai Penuh. Malam itu kami beristirahat untuk menyiapkan diri ke tujuan utama wisata kami yaitu Danau Gunung Tujuh.

Keesokan harinya dengan persiapan seadanya kami berangkat ke Gunung Tujuh yang berjarak sekitar 60 kilometer dari tempat kami menginap. Kami pun berhenti di beberapa destinasi wisata seperti kebun teh, swarga dan Bukit Cinta yang menawarkan pesona alam yang luar biasa.

Dan karena itu akhirnya kami pun sampai di gerbang pendakian Gunung Tujuh sekitar pukul 12.00 siang. Sebenarnya udah kesiangan untuk melakukan pendakian tanpa menginap di atas.

Untuk masuk ke Danau Gunung Tujuh kami dikenakan biaya Rp10.000,- perorang dan parkir Rp 10.000 untuk motor dan Rp30.000 untuk kendaraan roda empat.

Pengalaman sih, dari gerbang masuk ke hutan rimba memulai pendakian jaraknya cukup jauh. Untuk itu Bang Mamad berinisiatif untuk menyewa mobil pick up untuk mengantarkan kami ke gerbang hutan untuk memulai pendakian.


Dengan biaya Rp50.000, akhirnya kami diantar menuju gerbang. Tapi sayangnya, jalanan yang berbatu sulit untuk dilewati oleh kendaraan yang kami sewa. Terpaksa kami harus jalan kaki cukup jauh menuju gerbang.

Baru sampai gerbang, sudah ada diantara kami yang tampak begitu kelelahan. Oh ya untuk sampai ke Danau yang dikelilingi tujuh gunung ada petunjuk berupa tiang berwarna hijau yang berjumlah 42 tiang sampai ke danau. Tiang tersebut cukup besar dan berwarna hijau dan bertuliskan angka-angka sebagai petunjuk.

Perjalanan begitu terasa ketika memasuki kawasan hutan yang dimulai dari angka 19. Jalanan terjal mendaki membuat salah satu dari kami kram dan sangat kelelahan.

Dengan penuh pertimbangan ia menyuruh kami duluan dan berjanji akan menyusul. Kami pun menuruti karena berpikir kalau dia mau turun. Disinilah pelajaran tentang persahabatan dimulai. Nampaiknya kebersamaan diantara kami belum begitu terasa.

Kami bertujuh putuskan untuk berjalan duluan. Sampai dititik 20 ternyata 3 dari kami kembali minta lama beristirahat dan kembali meminta kami duluan. Yah, terpaksa dengan senang hati kami ikuti.

Kami berempat melanjutkan perjalanan ke puncak. Bang Mamad sebenarnya juga sangat lambat mendaki jalanan terjal dan tidak secepat yang lainnya. Karena konsistensi akhirnya tetap bersama di pos peristirahatan walau sering terpisah.


Setelah puas berjalan selama dua jam lebih akhirnya kami berempat pun berhasil melewati jalanan menanjak yang begitu melelahkan. Di titik 38 kami beristirahat sebelum turun ke Danau Gunung Tujuh.

Jalanan turunan cukup licin, untunglah baru-baru ini telah dibangun tali dan tiang sebagai gantungan bagi pengunjung agar aman turun ke bibir danau Tujuh.

Sekitar Pukul 15.00 kami berempat pun tiba di Danau Gunung Tujuh yang begitu indah. Sayang hari itu sedikit tertutupi kabut sehingga kurang terlihat jelas gunung dan bukit-bukit yang mengelilinginya.

Rasa khawatir kami mulai ada ketika kami berempat sampai. Teman-teman yang kami tinggal, kami tidak tahu nasibnya. Setiap pengunjung lain yang sampai kami tanyakan apakah bertemu mereka. Dan senangnya mendengar salah seorang dari pengunjung kalau mereka sudah sampai di titik 38.

Untunglah dan senang mendengarnya. Karena pastinya dalam perjalanan seperti ini rasanya gak enak betul ditinggal. Apalagi kalau ditinggalkan kenangan. Tapi kadang kepikir juga kalau jadi orang yang ditinggal malah jadi motivasi juga untuk terus berjalan agar tetap sampai. Walau bukan bersamanya tapi bersama yang lain. Galau lagi ! ini cerita apa sih ?


Setelah puas menunggu akhirnya 3 dari 5 sampai. Lega juga rasanya. Tapi masih menunggu dua orang lagi yang akhirnya menyusul juga sekitar 30 menit kemudian.

Setelah semua sampai akhirnya kami menikmati keindahan gunung Tujuh dengan makan bersama, berenang dan tak lupa berfoto. Walau cuaca gelap dan kabut, pesona Gunung Tujuh benar-benar membuat kami terpana sehingga lupa kalau hari sudah mau malam.


Puas berenang dan berfoto kami harus segera turun dan jam sudah menunjukkan pukul 18.00. Artinya kami harus turun dalam keadaan gelap tanpa senter dan kebetulan hari hujan.

Waktu itu Bang Mamad pakai sepatu running, tidak terbayang berapa kali terjungkal karena kondisi jalan yang gelap dan amat licin.

Satu dari kami yang kakinya keram menjadi salah satu penguat kebersamaan dan persahabatan.  Akhirnya kami bahu membahu dan bergantian untuk membawa teman kami turun. Yang perginya tercerai berai, pulangnya kami bersatu.

Saking setianya, mungkin dibayar pun gak ada yang mau turun duluan.Ya iyalah gelap gulita dan tak ada lagi pengunjung lain lewat. Untung masih ada senter hp yang bisa menerangi selama perjalanan.  Kadang sesuatu yang sulit justru membuat kita lebih baik dan lebih peduli.


Herannya pas turun, ada yang gak mau dibelakang. Maunya ditengah saja. Akhirnya terpaksa Bang Mamad dan teman satu lagi berada sebagai penjaga di belakang walau sebenarnya takut juga.

Akhirnya dengan kondisi badan berkubang tanah dan basah, sekitar pukul 21.00 kami sampai di bawah. Berhenti di warung untuk mecari ojek namun karena sudah malam jadi tidak ada. Karena yang lain sudah kelelahan, akhirnya terpaksa kami berempat saja yang berjalan menjemput motor di parkiran. Sisanya beristirahat dan menunggu jemputan.

Ternyata sangat jauh ke parkiran, agar cepat sampai ya kami saling menakut-nakuti. Walau sebenarnya takut benaran.

Akhirnya sampai parkiran dengan hati lega. Dan kami mengambil motor yang di parkir kemudian langsung menjemput teman yang mungkin sudah lelah menunggu. Karena menunggu itu memang melelahkan.


Setelah menyerahkan sampah sebagai syarat pulang dan mengambil KTP kami pun pulang. Jujur pendakian kali ini menyisakan banyak kenangan yang sulit dilupakan.




Bagi kalian yang mau mendaki, jangan lupa persiapan ya. Jangan seperti kami. Terutama fisik, mental dan bekal. Agar perjalanan kalian tidak berbuah kesusahan dan penyesalan. Selamat liburan. (mamad/ruangberita7)

Posting Komentar untuk "Perjalanan Seru Mendaki Kaldera Tertinggi di Asia Tenggara, Danau Gunung Tujuh"

Berlangganan via Email