Perjuangan Jonatan Christie, dari Klub Kecil Kini Andalan Indonesia ke Olimpiade

Jonathan Cristie

Ruangberita7, Jakarta - Atlet tunggal putra, Jonatan Christie sudah berlatih olahraga bulutangkis sejak usia 6 tahun. Panggung pertamanya adalah turnamen kecil di Jakarta.

Jonatan kini menjadi salah satu andalan Indonesia di Olimpiade Tokyo tahun depan. Dia sudah qualified setelah menempati peringkat tujuh Road to Tokyo, bersama Anthony Sinisuka Ginting (ranking 4) di sektor tunggal putra.

Jauh sebelum menjadi andalan, pria yang akan berusia 23 tahun September mendatang itu menekuni olahraga tepok bulu dari usia dini. Melalui ekstrakurikuler di sekolah, dia menjajal peruntungannya dengan tergabung dalam sebuah klub kecil di kawasan Jakarta Timur.

"Sebenarnya saya diarahkan oleh papah ke dunia bulutangkis. Papa dulunya adalah seorang atlet. Tapi bermulanya dari Sekolah Dasar (SD) karena ada ekstrakurikuler. Mungkin karena takut anaknya jadi hitam, latihan siang-siang kepanasan, jadi papah memilih saya untuk main di bulutangkis," cerita Jonatan Christie kepada Menpora Zainudin Amali melalui live Instagram Kemenpora.
Jonatan Christie melanjutkan langkahnya di BCA Indonesia Open 2015 ke babak kedua di Istora Senayan, Rabu (3/6/2015). Tunggal putra berusia 17 tahun itu menundukkan unggulan ketujuh dari Taiwan, Chou Tien Chen. Grandyos Zafna/detikcom.Jonatan Christie (Grandyos Zafna/detikcom)

Meski diarahkan orang tua, Jonatan Christie mengambil tugas barunya sebagai atlet dengan tanggung jawab. Dia latihan pagi sore. Mulai pukul 04.00 WIB subuh hingga pukul 07.00 WIB. Kemudian latihan kembali pukul 15.00 WIB. Hal itu nyaris ia lakukan setiap hari. Hasilnya, Jonatan bisa menjadi juara setelah satu tahun berlatih di turnamen kecil.

"Jadi tertariknya karena juara itu dan ada hadiah uang juga. Saya berpikirnya enak ya, bisa buat jajan. Bangga karena bisa dapat duit," kata Jonatan.

Lima tahun berjalan, Jonatan pun terpilih mewakili klubnya di kejuaraan antara klub di DKI Jakarta. Dari situ lah, step lain dari kariernya dimulai. Dia bertemu dengan Hendry Saputra, pelatih PB Tangkas yang juga pelatih tunggal putra di Pelatnas, Cipayung.

"Saat itu, Koh Hendry melihat saya, dan bilang lumayan. Saya pun dicoba di klubnya dan akhirnya bicara dengan papah. Akhirnya saya masuk klub tersebut. Itu klub besarnya," ujarnya.

"Setelah itu saya mengikuti banyak turnamen-turnamen nasional dan Sirkuit Nasional. Pada 2013, saya masuk pelatnas Cipayung dengan status pratama pada usia 15 tahun. Saat itu saya seangkatan dengan Anthony Sinisuka Ginting dan Ihsan Maulana Mustofa. Senior-senior juga masih banyak ada mas Sonny Dwi Kuncoro,Simon Santoso, dan mas Tommy Sugiarto, jadi masih banyak," dia menambahkan.

Jonatan Christie meraih emas bulutangkis tunggal putra Asian Games 2018 usai mengalahkan Chou Tien Chen. Dengan hasil ini Indonesia sudah mengumpulkan 23 emas.Jonatan Christie meraih emas bulutangkis tunggal putra Asian Games 2018 usai mengalahkan Chou Tien Chen (Agung Pambudhy/detikSport)

Popularitas Jonatan Christie pun kian melejit. Dia berhasil menjuarai turnamen-turnamen internasional. Salah satu panggung pertamanya adalah Asian Youth U-15 di Jepang. Kemudian disusul gelar-gelar lainnya termasuk multievent. Seperti juara di beregu putra SEA Games 2015, 2017, dan 2019.

Dia juga menjuarai Kejuaraan Asia Team pada 2016, 2018, dan terbaru tahun ini. Di level super series, atlet asal DKI Jakarta ini sukses mengantongi emas di Australia Open 2019 dan New Zealand 2019.

Di balik kesuksesannya, Jonatan Christie pernah dalam kondisi di-bully dan dikritik mengingat dia pernah tak sekalipun meraih gelar juara di level turnamen super series maupun grand prix. Satu-satunya gelar yang ia peroleh saat SEA Games 2017 di Malaysia.

Padahal Jonatan disebut-sebut sebagai tunggal putra generasi baru usai era Taufik Hidayat, Simon Santoso, dan Sony Dwi Kuncoro. Tapi, selalu ada kesempatan untuk setiap orang membungkam kritik yang ada dan itulah yang dilakukan Jonatan kini. Puncaknya saat di Asian Games 2018. Jonatan berhasil membuktikan stigma orang terhadapnya.

"Asian Games itu turnamen terberat saya. Pertama main di rumah sendiri dan tekanannya luar biasa," ujarnya.

"Saya bangga bisa masuk pelatnas. Terima kasih kepada orang tua dan nenek yang sudah mendukung saya 100 persen. Karena waktu saya masih di klub PB Tangkas, saya tinggal di rumah nenek dan sangat di-support. Sementara untuk pelatih, saya berterima kasih kepada Bapak Harto (pelatih saya di klub kecil SD), dan coach Hendry," pungkasnya.

(sumber: detik)

Posting Komentar untuk "Perjuangan Jonatan Christie, dari Klub Kecil Kini Andalan Indonesia ke Olimpiade"

Berlangganan via Email