Ternyata Ada 3 Kekeliruan Analisa Isu Kudeta Boni Hargens

Boni Hargens (instagram)

Ruang Berita7 – Banyak pihak yang meragukan isu kudeta yang dilontarkan Direktur Eksekutif Lembaga Pemilih Indonesia (LPI), Boni Hargens.

Bahkan, analis sosial politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedilah Badrun membeberkan tiga kekeliruan analisis Boni Hargens.

Analisis yang dimaksud ialah soal isu kudeta atau menggulingkan pemerintahan Joko Widodo yang dilontarkan Boni Hargens.

“Analisa Boni Hargens keliru banget,” ucap Ubedilah Badrun kepada RMOL, Minggu (7/6/2020).

Ubedilah Badrun menilai, Boni Hargens tidak bisa membedakan antara kritik dengan pengacau.

“Kritik itu basisnya data, pengacau itu basisnya emosi. Jika pengritik menggunakan data mestinya Boni Hargens bantah dengan data, bukan memberi label ‘pengacau’,” katanya.

Bahkan, ia menyatakan bahwa diksi ‘pengacau’ mirip dengan pola rezim Orde Baru.

Di mana, kelompok yang kritis terhadap pemerintah selalu ditempeli dengan label negatif.

“Misalnya dengan label OTB (Organisasi Tanpa Bentuk), kelompok ekstrem kanan, ekstrem kiri, gerakan pengacau keamanan, dan lain-lain,” jelas Ubedilah.

Kekeliruan yang kedua ialah bahwa Boni dinilai berbicara tanpa menyebutkan data terkait isu kudeta.

Dalam pernyataannya, ujar Ubedilai, Boni secara terbuka menyebut ada bandar di balik gerakan kelompok pengacau.
Mulai dari bandar menengah sampai bandar papan atas.

Akan tetapi Boni Hargens tidak berani menyebutkan satupun bandar yang dimaksud.

Karena itu, ia menilai Boni juga tidak berhati-hati dalam konteks yang kedua.

“Saya khawatir ia terjebak dalam halusinasi konstruksi berfikir. Jika dia benar coba tunjukan siapa-siapa bandar yang dimaksud,” tantangnya.

Kekeliruan ketiga, sambung Ubedilah, Boni dinilai keliru menasihati seorang tokoh agama dan ulama seperti Din Syamsuddin yang merupakan Ketua Dewan Pertimbangan MUI Pusat.

“Boni Hargens juga keliru menasehati tokoh agama dan ulama sekelas Din Syamsudin dengan nasehat harus ada keteladanan moral dalam bertindak dan berbicara di ruang publik,” tegasnya.

“Nasehat itu sepatutnya untuk Boni Hargen,” sindir Ubedilah.

Sebelumnya, Boni Hargens mengungkap ada empat faksi yang hendak melakukan kudeta terhadap pemerintahan yang sah.

Mereka akan menggunakan sejumlah isu sebagai materi propaganda politik untuk memprovokasi rakyat.

Di antaranya, isu komunisme dan rasisme Papua dengan mengaitkan isu rasisme yang menimpa warga kulit hitam Amerika Serikat, George Floyd.

Mereka juga memanfaatkan potensi krisis ekonomi sebagai dampak inevitable (tidak terhindarkan) pandemi Covid-19.

Bahkan, Boni menyebut ada bandar yang membiayai empat faksi tersebut.

Isu kudeta lain juga disampaikan Haris Rusly Moti yang mengaku mendapat informasi adanya faksi di dalam pemerintahan yang ingin mengambil alih kekuasaan.
Malah, Haris menyebut bahwa skenario yang akan digunakan adalah seperti 2001 silam saat Megawati Soekarnoputri menggeser Gus Dur.

(sumber: pojoksatu)

Posting Komentar untuk "Ternyata Ada 3 Kekeliruan Analisa Isu Kudeta Boni Hargens"

Berlangganan via Email