Sudah Jaya 24 Tahun, Begini Nasib Sarang Prostitusi Di Mundu

Kawasan Desa Mungu Pesisir yang Dibongkar Petugas
(foto: Detik.com)

Ruangberita7.com - elasan warung sekaligus tempat prostitusi di pinggir sungai, Desa Mundu Pesisir, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, dirobohkan aparat gabungan. Sarang pekerja seks yang dijuluki Blok Jongor ini sudah berdiri sejak 24 tahun.

Sejumlah pemilik warung yang dibongkar tetap mengelak. Salah satunya Rohani. Rohani mengaku tak pernah terlibat aktivitas prostitusi. Ia hanya membuka warung biasa.

"Saya di sini jualan kopi. Bukan jualan 'jablay' (PSK). Saya sudah bertahun-tahun di sini," teriak Rohani sembari menangis, Rabu.

Rohani mengaku lebih dari 10 tahun membuka warung di lokasi tersebut. Badan Rohani langsung lemas dan menangis saat menyaksikan alat berat membongkar warungnya. Ia tetap mengelak tak pernah membuka bisnis prostitusi.

"Saya di sini sewa bangunan. Saya numpang. Saya cuma minta asbes saja untuk buka warung lagi. Kalau di sini sudah 10 tahun," kata Rohani sembari menunjukkan kuitansi penyewaan bangunan.

Rohani merupakan pendatang yang membuka warung di kawasan tersebut. Tak hanya Rohani, sejumlah pemilik warung lainnya pun sempat mengelak.

Namun, pemilik warung pasrah ketika petugas gabungan dari Satpol PP, polisi, TNI serta relawan menunjukkan sejumlah bukti adanya aktivitas prostitusi di lokasi tersebut. Warung-warung di pinggiran sungai itu dilengkapi sejumlah bilik kamar.

Bupati Cirebon Imron Rosyadi memantau langsung proses pembongkaran sarang pekerja seks di Blok Jongor. Ia mengatakan warung prostitusi yang dibongkar itu bangunan liar yang sudah menjamur selama puluhan tahun.

"Total ada 14 bangunan liar yang dijadikan tempat prostitusi. Yang tidak sesuai aturan tentu kami bongkar," kata Imron saat meninjau pembongkaran tempat prostitusi.

Imron mengatakan aktivitas prostitusi membahayakan bagi masyarakat. Sehingga, ia tak mentolerir adanya aktivitas tersebut. "Sudah 24 tahun (tempat prostitusi) ada. Maka, kami bersama masyarakat menertibkan tempat ini. Ke depannya akan terus monitor," ucap Imron.

Politikus PDI Perjuangan itu mengatakan pemilik warung esek-esek itu merupakan pendatang. Sejak lama warga sekitar tempat prostitusi tersebut menolak. Bahkan, lanjut Imron, aparat setempat rutin merazia. Namun, aktivitas haram itu tetap dilakukan.

"Kita juga akan koordinasi dengan Dinas Sosial (Dinsos) untuk penanganan selanjutnya. Jangan sampai ada lagi," ujar Imron.

Sementara itu, Puri (31), warga Desa Mundu, mengaku geram dengan adanya sarang pekerja seks yang sudah ada sejak ia masih anak-anak. Puri membawa poster penolakan terhadap bisnis haram yang ada di lingkungannya.

"Ya banyaknya pendatang (yang membuka warung). Prostitusi ada, jual minuman juga ada. Sudah puluhan tahun, jelas mengganggu. Alhamdulillah terealisasikan sekarang, harus dibongkar semua," kata Puri. (detik)

Posting Komentar untuk "Sudah Jaya 24 Tahun, Begini Nasib Sarang Prostitusi Di Mundu"

Berlangganan via Email