Pahala Memerdekakan Negeri

 


Pemukiman padat penduduk di bantaran Sungai Ciliwung, kawasan Bukit Duri, Jakarta, Sabtu (25/8). (foto ilustrasu) Salah satu prasyarat memedekan sebuah negeri adalah melepaskan perbudakan (hamba sahaya), termasuk melepaskan masyarakat dari kemiskinan.

Foto: Antara/Yulius Satria Wijaya
Allah SWT menerangkan beberapa prasyarat untuk memerdekakan sebuah negeri.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Dr KH Syamsul Yakin MA

Untuk bisa memerdekakan negeri,  seseorang harus menempuh jalan  mendaki dan sulit. Namun Allah SWT berfirman, “Tetapi dia tidak menempuh jalan yang mendaki dan sulit.” (QS. al-Balad/90: 11). Penyebabnya, dia tidak mau berusaha sekeras tenaga untuk melakukan kebaikan dan menanggalkan keburukan. 

Sebab lainnya karena ego sektoral di mana seseorang menginginkan suatu kemerdekaan pada masanya, oleh ormasnya, atau partainya. Bila usaha tersebut dilakukan kelompok lain, dianggapnya di luar garis kebijakan organisasi. Padahal kemerdekaan yang digerakkan oleh kelompok lain harus dimaknai sebagai kesuksesan bersama.

Oleh karena itu, penting dipertanyakan kembali untuk menjadi titik perhatian ihwal jalan yang mendaki dan sulit itu. Allah SWT firmankan, “Dan tahukah kamu apakah jalan yang mendaki dan sulit itu?” (QS. al-Balad/90: 12). Pertanyaan retoris ini memberi informasi bahwa seseorang belum tahu cara untuk menempuh jalan itu. 

Karena itu, Allah SWT memberi tahu bahwa prasyarat untuk memerdekakan sebuah negeri, yakni pertama,  “(Yaitu) melepaskan perbudakan (hamba sahaya).” (QS. al-Balad/90: 13). Dalam konteks kekinian hamba sahaya adalah mereka yang lemah dan dilemahkan, miskin dan dimiskinkan.

Hamba sahaya harus dimerdekakan dari perbudakan modern seperi budaya, ekonomi, politik, dan hegemoni otomotif dan elektronik. Untuk bisa merdeka, hamba sahaya  harus berdaya, mandiri, dan unggul. Perkembangan otomotif dan elektronik harus direspons dengan mengimpor filosofinya,  bukan hanya membeli produk jadinya.

Kedua, para hamba sahaya itu harus dimerdekakan dengan cara memaksimalkan, “Sepasang mata, lidah, dan sepasang bibir” (QS. al-Balad/90: 8-9). Lalu, ketiga, “Memberi makan pada hari terjadi kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir.” (QS. al-Balad/90: 14-16). 

Tentang ayat memberi makan kepada, “Anak yatim yang ada hubungan kerabat” (QS. al-Balad/90: 15),  Nabi SAW bersabda dalam hadits yang ditulis Imam Muslim, Imam Turmudzi, dan Imam Nasa’i, “(Pahala) sedekah kepada orang miskin adalah satu sedekah. Sedangkan kepada kerabat adalah dua sedekah, (yakni) sedekah dan silaturahim.” 

Prasyarat berikutnya, yang memerdekakan negeri haruslah, “Orang-orang yang beriman, dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan.” (QS. al-Balad/90: 17-18). Saat ini kita sedang merindukan orang-orang seperti ini di negeri kita.

Mengenai pahala untuk golongan kanan, Allah SWT serukan, ”Yaitu golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu.”  (QS. al-Waqiah/56: 8). Menurut pengarang Tafsir Jalalain, kalimat dalam ayat ini mengandung pengertian mengagungkan dan memuliakan kedudukan mereka, karena mereka kelak dimasukkan ke dalam surga.

Agar kita termasuk golongan kanan, yakni golongan yang terus-menerus mempertahankan kemerdekaan negeri, kita harus berani menempuh jalan  mendaki dan sulit. Kita harus memerdekakan belenggu perbudakan, memberi makan orang miskin, yatim, dan siapa saja yang mengalami kelaparan. Insya Allah, kita beroleh pahala surga.

Terakhir, untuk memerdekakan negeri sampai betul-betul merdeka secara ekonomi, budaya, dan politik kita dianugerahi oleh Allah SWT tiga  potensi. Pertama, sepasang mata untuk memonitor keadaan. Kedua, lidah untuk beretorika. Ketiga, sepasang bibir yang harus diatur kapan tersenyum dan menampakkan marah demi harga diri negeri.

Berlangganan via Email